Kamis, 17 Maret 2011

Berkah Pendidikan Sanitasi di Sekolah

Anak-anak SD Percontohan 2 Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, bermain riang. Saat itu jam istirahat. Mereka tak segan duduk di lantai sekolah. Lantai porselin berwarna putih itu tampak mengkilat. Tak satu pun sampah mengotorinya.

Tong sampah terpasang di depan ruang kelas. Satu untuk sampah organik, dan satunya lagi untuk anorganik. Tong sampah organik terisi hampir seperempatnya. Sedangkan tong anorganik hanya menampung beberapa lembar bungkus plastik.

Tanpa disuruh, murid SD itu membuang sampah yang ditemuinya ke tempatnya. Poin demi poin telah menunggu. Siapa yang terbanyak membuang sampah dalam sebulan akan mendapatkan hadiah. Ada buku, pensil dan alat tulis lainnya. Murid-murid saling berlomba menjadi jawara pengumpul sampah.

“Ini adalah satu cara kami mengajarkan kepedulian anak-anak terhadap lingkungan, khususnya sampah,” kata Kepala Sekolah SD Percontohan 2 Bukittinggi Drs HM Aswir MPd beberapa waktu lalu. Tak cukup itu, sekolah pun menyediakan tempat pengomposan. Sampah-sampah organik tak perlu dibuang. Semua dikomposkan. Hanya anorganik yang dibuang.

Tiap hari ada dua kelas yang piket kebersihan sekolah. Ada juga piket kebersihan kelas. Kombinasi piket ini mampu memelihara kebersihan sekolah. “Mereka mampu menciptakan lingkungan yang bersih,” kata Aswir.

Siswa pun sudah biasa cuci tangan pakai sabun setelah beraktivitas. Wastafel yang terpasang di depan setiap kelas memudahkan mereka mempraktikkan bagaimana menjaga kebersihan tangan dari kuman.

Munculnya kesadaran sanitasi ini tidak lepas dari proses pembelajaran. Sanitasi dicangkokkan dalam mata pelajaran yang tepat seperti lingkungan hidup.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Bukittinggi Dra Ellia Makmur, MM menjelaskan, pihaknya telah mengembangkan pendidikan sanitasi ini sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. “Kita fokuskan pendidikan lingkungan hidup pada sanitasi,” kata Ellia.

Sejak dini anak-anak dididik untuk peduli terhadap lingkungannya. “Bagaimana sampah harus dikelola, bagaimana got-got di sekolah tidak mampet, bagaimana menjaga kesehatan diri, termasuk bagaimana mendaur ulang sampah. Walau pun belum semua sekolah,” jelasnya.

Gerakan kesadaran lingkungan itu terus berlangsung di dunia pendidikan di kota sejuk ini. Ellia menargetkan, setiap siswa yang lulus nanti mempunyai sikap mental yang terbudaya di sekolah.

Pihak Dinas Pendidikan pun mengadakan lomba UKS (Usaha Kesehatan Sekolah) secara periodik. Ini dalam rangka memicu sekolah. Guna mendukung itu Dinas membantu sarana dan prasarana. Dinas juga mengarahkan agar di SD ada dokter kecil dan di sekolah menengah ada dokter yang hadir setiap 15 hari. “Kami yakin jika anak-anak sehat, pendidikan sanitasi berarti telah berjalan ke arah yang lebih optimal,” kata Ellia.
----
sumber : www.sanitasi.or.id

0 komentar:

Posting Komentar